Selasa, 27 Oktober 2015

cinta budaya Manggarai




CACI DALAM PRESPEKTIF ANTROPOLOGI

A.    PENDAHULUAN
Budaya merupakan salah satu terminologi yang banyak mengusik dan menarik perhatian pada pakar antropologi dan bahkan filsafat budaya dewasa ini. Mengapa? Seperti dilansir Edgar H Shein, budaya merupakan fenomena dinamis dan latar belakang dari sebuah struktur yang mempengaruhi seluruh dimensi komunitas dan organisasi kehidupan manusia dalam berbagai bentuk.
Menurut antropologi budaya yang dimaksud dengan kebudayaan adalah kebudayaan itu tidak hanya berupa benda-benda hasil kesenian dan bermacam-macam bentuk kesenian saja. Tetapi juga sikap, tingkah laku manusia, cara berfikir, pandangan hidup, penilaian tentang baik buruk, semua itu termasuk pengertian kebudayaan. Secara singkat dan sederhana antropologi budaya memberi arti istilah kebudayaan sebagai cara orang bersikap dan bertingkah laku yang di pelajari yang sudah menjadi adat kebiasaan masyarakat beserta hasil – hasilnya.
Budaya merupakan sesuatu yang kompleks dan hal ini berpengaruh terhadap keberagaman pemahaman budaya itu sendiri.  Edward Burnett Taylor, misalnya, memahami budaya atau peradaban sebagai suatu keseluruhan yang kompleks dari pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat-istiadat, serta kemampuan-kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.  Taylor tidak membedakan budaya dan peradaban. Hal yang sama dipahami Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Dewantara menyatakan bahwa budaya adalah buah budi manusia yang merupakan hasil perjuangan manusia terhadap pengaruh yang kuat yaitu alam dan zaman (kodrat dan masyarakat). Filsuf terkemuka, Ernest Cassirer, menegaskan bahwa hanya manusia yang berbudaya karena hanya manusia yang memiliki akal budi. Sebab budaya adalah karya kreativitas akal budi. Pandangan tentang budaya ini memperlihatkan bahwa budaya bukan sesuatu yang statis dan stagnan, melainkan dinamis, yang menimbulkan ketegangan kreatif antara daya preservatif di suatu sisi dan daya progresif di sisi lain.
Kebudayaan yang terdiri dari gagasan, kepercayaan, nilai, harapan dan ilmu kemudian dituangkan dalam ekspresi simbolik. Keseluruhan pola pikir dan pola tingkah laku yang tersedimentasi kuat dalam kelompok sosial tertentu itu turut menentukan cara hidup mereka. Tarian adalah salah satu ekspresi dari totalitas pola pikir dan tingkah laku manusia dari suatu budaya.
Tari yang mengutamakan gerak dalam pementasannya memiliki pengklasifikasian gerak berupa gerak tubuh bagian atas (leher, kepala, dan mata), gerak tubuh anggota badan bagian tengah (pundak, lengan dan badan/perut), dan gerak tubuh anggota badan bagian bawah (pinggul, kaki dan jari). Tari dalam suatu upacara berfungsi sebagai alat komunikasi manusia dengan sesuatu yang dikultuskan (dewa/dewi, roh nenek moyang). Selain itu, tari juga berisikan cerita sejarah, legenda, mitos ataupun kehidupan yang nyata yang sedang berjalan.
Dalam lingkaran budaya orang Manggarai Nusa Tenggara Timur terdapat salah satu contoh tarian yang menggambarkan karakter orang Manggarai, bernama “Tarian Caci”. Manggarai adalah bagian dari etnis Manggarai. Masyarakat tradisional Manggarai terdiri dari 37 kedaluan, yakni: Ruteng, Rahong, Ndoso, Kolang, Lelak, Wotong, Todo, Pongkor, Pocoleok, Sita, Torokgolo, Ronggakoe, Kepo, Manus, Rimu, Welak, Pacar, Reho, Bari, Pasat, Nggalak, Ruis, Reo, Cibal, Lambaleda, Congkar, Biting, Pota, Rembong, Rajong, Ngoo, Mburak, Kempo, Boleng, Matawae, Lo’o dan Bajo. Dari setiap kedaluan bersemi mitos atau kisah kuno mengenai asal usul leluhurnya dengan banyak kesamaan, yaitu bagaimana nenek moyangnya datang dari laut atau seberang, atau bagaimana nenek moyangnya turun dari gunung, menyebar dan mengembangkan hidup dan kebudayaannya.

B.     Bentuk Aktivitas Budaya/ Adat Istiadat Yang Ada Dalam Masyarakat
Di Manggarai juga tumbuh dan berkembang berbagai jenis kesenian khas daerah ini seperti seni sastra, musik, tari, lukis, disain dan kriya. Dari berbagai jenis kesenian itu, ada dua jenis yang sudah mencapai tingkat sebuah peradaban dan sudah dikenal luas, yakni seni pertunjukan caci dan seni rupa (kriya), songke. Caci sudah merupakan puncak kebudayaan Manggarai yang unik dan sarat makna: seni gerak (lomes), nilai etika (sopan santun), nilai estektika, muatan nilai persatuan, ekspresi suka cita, nilai sportifitas, serta penanaman percaya diri.
Tarian caci merupakan ekspresi budaya tradisional Manggarai. Ekspresi budaya tradisional tersebut mengusung tema “ca nai latang Manggarai” (satu hati untuk Manggarai). Di Manggarai, Flores - NTT, caci itu sendiri adalah tarian kesatriaan pria-pria Manggarai. Watak kesatriaan itu terlihat pada ketangkasan menggunakan peralatan dan pernak-pernik caci. Peralatan dan pernak-pernik tersebut, dalam bahasa Manggarai, adalah panggal, lalong ndeki, nggorong, nggiling, agang, larik, sapu dan songke. Caci secara etimologis berasal dari dua suku kata yakni ca dan ci. Ca berarti satu dan ci berarti lawan. Jadi, caci berarti tarian seorang melawan seorang yang lain. Prinsipnya adalah sportif dan kreatif dalam aksi.
Caci atau tari Caci adalah tari perang sekaligus permainan rakyat antara sepasang penari laki-laki yang bertarung dengan cambuk dan perisai di Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Penari yang bersenjatakan cambuk (pecut) bertindak sebagai penyerang dan seorang lainnya bertahan dengan menggunakan perisai (tameng).
Seorang laki-laki yang berperan sebagai pemukul (disebut paki) berusaha memecut lawan dengan pecut yang dibuat dari kulit kerbau/sapi yang dikeringkan. Pegangan pecut juga dibuat dari lilitan kulit kerbau. Di ujung pecut dipasang kulit kerbau tipis dan sudah kering dan keras yang disebut lempa atau lidi enau yang masih hijau (disebut pori). Laki-laki yang berperan sebagai penangkis (disebut ta’ang), menangkis lecutan pecut lawan dengan perisai yang disebut nggiling dan busur dari bambu berjalin rotan yang disebut agang atau tereng. Perisai berbentuk bundar, berlapis kulit kerbau yang sudah dikeringkan. Perisai dipegang dengan sebelah tangan, sementara sebelah tangan lainnya memegang busur penangkis.
C.    Para Pelaku Kesenian
Caci dimainkan dua orang laki-laki, satu lawan satu, namun memukul dilakukan secara bergantian. Para pemain dibagi menjadi dua kelompok yang secara bergantian bertukar posisi sebagai kelompok penyerang dan kelompok bertahan. Caci selalu dimainkan oleh kelompok tuan rumah (ata one) dan kelompok pendatang dari desa lain (ata pe’ang atau disebut meka landang yang berarti tamu penantang). Tarian Danding atau tandak Manggarai ditarikan sebagai pembuka pertunjukan caci. Penari caci tidak hanya menari namun juga melecutkan cambuk ke lawan sembari berpantun dan bernyanyi. Lokasi pertandingan caci biasanya di halaman rumah adat.
Bila pukulan lawan dapat ditangkis, maka pecutan tidak akan mengenai badan. Kalau pecutan tidak dapat ditangkis, pemain akan menderita luka. Jika mata terkena cambukan, maka pemain itu langsung dinyatakan kalah (beke), dan kedua pemain segera diganti.
Pertarungan berlangsung dengan diiringi bunyi pukulan gendang dan gong, serta nyanyian (nenggo atau dere) para pendukung. Ketika wakil kelompok bertanding, anggota kelompok lainnya memberi dukungan sambil menari-nari. Tempurung kelapa dipakai sebagai tempat minum tuak yang dipercaya dapat menggandakan kekuatan para pemain dan penonton. Seperti layaknya pertandingan bela diri, sebagian penonton ada mendukung penyerang, sementara sebagian lagi mendukung pemain bertahan. Anggota kelompok atau penonton bersorak-sorak memberi dukungan agar cambuk dilecutkan lebih kuat lagi. Tarian Caci merupakan suatu permainan adu ketangkasan antara dua orang laki-laki dalam mencambuk dan menangkis cambukan lawan secara bergantian. Tarian Caci terlihat begitu heroik dan indah karena merupakan kombinasi antara Lomes (keindahan gerak tubuh dan busana yang dipakai), Bokak (keindahan seni vokal saat bernyanyi) , dan Lime (ketangkasan dalam mencambuk atau menangkis cambukan lawan).Pemain Caci juga dibekali kemampuan olah vokal untuk bernyani , dimana setelah menangkis cambukan lawan seorang pemain Caci secara spontan bernyanyi dan menyampaikan Paci.      
D.    Tokoh Yang Berpengaruh
Dalam permain caci ini tokoh yang perpengaruh demi kesuksesan acara syukuran adalah tua-tua adat yang berperan sebagai Raja yang menentukan keberlangsungan upacara syukuran, dan pendukung adah warga dimana tua adat dan warga harus bermusywarah sebelum menentukan tanggal upacara syukuran tersebut. Pengurus desa dan pemerithah juga berperan atas printah dari tua-tua adat, karena segala sesuatu yang berurusan dengan upacara ada adat adalah tua-tua adat yang menentukan. Peran dari tua-tua adat tidak terlepas dari rasa kehormatannya kepada leluhur. Karen roh leluhur bagi masyarakat Manggarai merupakan dewa penyelamat, maka masyarakat manggarai wajib menyembah roh-roh leluhur.

E.     Urutan Penyajian Pertunjukan
Caci dibuka dengan Tari Danding atau dikenal juga dengan nama Tandak Manggarai. Para lelaki, di luar paki dan ta’ang, berkeliling membentuk lingkaran. Mereka biasanya berkostum beda dari para pelaku Caci; berkemeja dan berbalut kain songke. Mereka akan menyenandungkan nyanyian adat yang sakral, diiringi musik-musik yang berasal dari tabuhan gendang, gong, dan tambur. Nyanyian ini tidak boleh dinyanyikan di sembarang tempat karena bertujuan untuk memanggil arwah-awah nenek moyang untuk hadir bersama menyaksikan Caci. Sementara Tandak Manggarai berlangsung, para paki dan ta’ang melakukan pemanasan otot. Ini juga menarik, karena pemanasan yang mereka lakukan adalah dengan menggerak-gerakkan tubuh serupa gerakan kuda.celana putih, dengan songket yang melilit di pinggang serta ikat kepala songket.
Ketika Tandak Manggarai usai dilakukan, para penari Caci akan mulai bergerak berkeliling. Gerakan tari mereka dirancang serupa sebuah gerakan tidak harmonis; gerak baku, gerak berkelahi. Tapi, yang sebenarnya, itu merupakan gerakan cerminan kegembiraan, sesuai dengan makna Caci itu sendiri, yaitu meluapkan kegembiraan terhadap sang pencipta dan keluarga. Setelah memilih lawan, sepasang paki dan ta’ang akan saling membungkuk memberi hormat, kemudian mulai saling mencambuk dan menangkis.
Ada peraturan keras perihal mencambuk dalam Caci. Bagian tubuh dari pinggang ke bawah tidak sah dijadikan sasaran cambuk. Dada, punggung, dan lengan adalah sasaran yang seharusnya. Dan, ketika kendiki sudah mengenai mata, maka itu disebut beke (kalah) dan kedua penari Caci harus diganti menangkis.
Di sepanjang Caci, musik tidak berhenti bergema. Tetabuhan gendang, gong, dan tambur masih mengiringi. Setiap kali pasangan selesai ‘berperang’, mereka biasa mengeluarkan suara, yang disebut paci. Paci adalah bahasa kiasan yang mengartikan kehebatan seseorang. Paci ini disampaikan dalam bentuk syair lagu. Selain Paci, ada pula saat di mana para penari berinteraksi dengan penonton. Mereka biasa akan bertanya apakah permainannya bagus atau tidak dengan, “Oe ema o? Hena ko toe? Pass pasang daku ema?”Penonton atau pihak lawan boleh menjawab, “Oeeee! Pass anak!” Artinya, “cantik” atau “tidak kena”.  Sesekali, para paki dan ta’ang juga akan ikut bernyanyiuk nyanyian.
Caci akan ditutup kembali dengan Danding. Seluruh pelaku Caci akan saling bersalaman dan bernyanyi-nyanyi riang keluar arena tari. Kadangkala, Caci masih akan dilanjutkan dengan tari-tari lainnya. Contohnya Tari Ndundu Ndake, tari yang dilakukan oleh 7-10 perempua. Tari ini adalah tari khas masyarakat Manggarai yang dilakukan sebagai tarian selamat datang atau tarian rasa syukur.

F.     PROPERTI YANG DIGUNAKAN    
Pemain dilengkapi dengan pecut (larik), perisai (nggiling), penangkis (koret), dan panggal (penutup kepala). Untuk pakaian, para penari biasa bertelanjang dada dengan bawahan celana panjang warna putih yang dilapisi sarung songket khas Manggarai berwarna hitam bercorak motif songke khas Manggarai. Di bagian pinggang, terpasang lalong denki (aksesori berbentuk ekor kuda yang tegak dilengkapi untaian lonceng yang disebut gorong (lonceng-lonceng kecil yang berbunyi ketika para penari bergerak). Di sekujur pinggang juga terdapat sapu tangan warna-warni yang digunakan untuk menari setelah atau sebelum dipukul lawan.
Topeng atau hiasan kepala (panggal) dibuat dari kulit kerbau yang keras berlapis kain berwarna-warni. Hiasan kepala yang berbentuk seperti tanduk kerbau ini dipakai untuk melindungi wajah dari pecutan. Wajah ditutupi kain destar sehingga mata masih bisa melihat arah gerakan dan pukulan lawan. Mereka menggunakan kain destar untuk menutupi wajah, dengan tujuan melindunginya dari cambukan. Sebagai penghias kepala, mereka mengenakan panggal yang terbuat dari kulit kerbau berlapis kain warna-warni. Bentuk panggal adalah tanduk kerbau. Ini melambangkan bahwa lelaki harus tangguh dan berani, serupa kerbau. Simbolisme terhadap kerbau memang begitu kuat dalam Caci. Sebab, bagi masyarakat Manggarai, kerbau adalah hewan terkuat dan terganas di dunia. Di luar itu, bagi masyarakat Manggarai, panggal mengandung arti lima dasar kepercayaan. Bagian tengahnya melambangkan rumah gendang, yaitu pusat persatuan masyarakat  tempat terselenggaranya berbagai acara persembahan.
Caci penuh dengan simbolisme terhadap kerbau yang dipercaya sebagai hewan terkuat dan terganas di daerah Manggarai. Pecut melambangkan kekuatan ayah, kejantanan pria, penis, dan langit. Perisai melambangkan ibu, kewanitaan, rahim, serta dunia. Ketika cambuk dilecutkan dan mengenai perisai, maka terjadi persatuan antara cambuk dan perisai.
Simbol maskulinitas dan sportivitas
Seorang paki dan ta’ang yang dipilih tidak hanya ahli tarung, tetapi juga bisa menari (lomes) dan bernyanyi (dere). Hal ini agar Caci menjadi lebih menarik untuk ditonton, terutama perempuan-perempuan pujaan. Selazimnya perang, Caci biasanya akan meninggalkan luka-luka cambuk pada tubuh penari. Namun, inilah esensi Caci. Ia tidak hanya sekadar tarian. Caci sekaligus merupakan simbol maskulinitas lelaki Manggarai. Luka-luka cambuk yang didapat dari Caci dianggap sebagai pembuktian kekuatan dan kejantanan laki-laki di daerah tersebut. Caci juga menjadi pembelajaran bagi para lelaki Manggarai. Tidak hanya untuk menajamkan kemahiran berperang, tetapi juga mengajarkan bagaimana mengendalikan emosi. “Caci ini baku pukul. Tapi, apakah dia kena atau tidak, luka atau tidak, tidak ada rasa dendam
G.    Posisi Kesenian Dalam Masyarakat Manggarai
Bagi orang Kabupaten Manggarai, caci merupakan pesta besar. Desa penyelenggara memotong beberapa ekor kerbau untuk makanan para peserta dan penonton. Tari Caci biasanya hanya dipentaskan pada acara-acara khusus, yaitu hari-hari besar seperti HUT Kemerdekaan RI atau acara-acara adat diantaranya syukuran musim panen (hang woja), ritual tahun baru (penti), upacara pembukaan lahan baru, upacara menyambut tamu, dan sebagainya. Saat diadakan pertunjukkan caci, biasanya pesta besar pun dilangsungkan dengan memotong beberapa ekor kerbau kemudian disajikan sebagai makanan bagi para peserta dan  penonton. Biasanya, dua kelompok tari caci merupakan kelompok laki-laki dari dua desa atau kampung.
Caci dapat juga Anda saksikan setiap bulan-bulan panen antara Juli dan Oktober di desa-desa sekitar Manggarai, Flores bagian barat. Salah satu desa dengan Caci yang mengesankan ialah Ruteng. Langitnya yang biru bersih di siang hari saat menghadiri Caci digelar adalah pemandangan dan pengalaman yang tak berbanding.
H.    Peranan Sistem Keyakinan Masyarakat terhadap keberadaan Kesenian
Tari Caci Adalah ritual Penti Manggarai. Upacara adat merayakan syukuran atas hasil panen yang satu ini dirayakan bersama-sama oleh seluruh warga desa. Bahkan ajang prosesi serupa juga dijadikan momentum reuni keluarga yang berasal dari suku Manggarai. 
Ritus penti dimulai dengan acara berjalan kaki dari rumah adat menuju pusat kebun atau Lingko, yang ditandai dengan sebuah kayu Teno. Di sini, akan dilakukan upacaraBarong Lodok, yaitu mengundang roh penjaga kebun di pusat Lingko, supaya mau hadir mengikuti perayaan Penti. Lantas kepala adat mengawali rangkaian ritual dengan melakukan Cepa atau makan sirih, pinang, dan kapur. Tahapan selanjutnya adalah melakukan Pau Tuak alias menyiram minuman tuak yang disimpan dalam bambu ke tanah. 
Urutan prosesi tiba pada acara menyembelih seekor babi untuk dipersembahkan kepada roh para leluhur. Tujuannya, supaya mereka memberkahi tanah, memberikan penghasilan, dan menjauhkan dari malapetaka. Para peserta pun mulai melantunkan lagu pujian yang diulangi sebanyak lima kali. Lagu itu disebut Sanda Lima.  Usai itu, rombongan kembali ke rumah adat sambil menyanyikan lagu yang syairnya menceritakan kegembiraan dan penghormatan terhadap padi yang telah memberikan kehidupan. Ritual Barong Lodok yang pertama ini dilakukan keluarga besar yang berasal dari rumah adat Gendang. Upacara serupa juga dilakukan keluarga besar dari rumah adat Tambor. Keduanya dipercaya sebagai cikal bakal suku Manggarai. 

Sebenarnya, ritual Barong Lodok juga disimbolkan untuk membagi tanah ulayat kepada seluruh anggota keluarga. Tanah yang bakal dibagikan itu mempunyai beragam perbedaan luas, tergantung status sosial. Pembagiannya disimbolkan dengan Moso, yakni sektor dalam Lingko yang diukur dengan jari tangan. Tanah tersebut dibagi berdasarkan garis yang mirip dengan jaring laba-laba.Tua Teno adalah satu-satunya orang yang memiliki otoritas membagi tanah tersebut. 
Sehabis Barong Lodok, prosesi berlanjut ke ritual Barong Wae. Di sini, warga kembali akan mengundang roh leluhur penunggu sumber mata air. Menurut kepercayaan, selama ini roh leluhur itu telah menjaga sumber mata air, sehingga airnya tak pernah surut. Ritual ini juga menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan, yang telah menciptakan mata air bagi kehidupan seluruh warga Desa. Korban yang dipersembahkan adalah seerkor ayam dan sebutir telur. 
Rangkaian upacara dilanjutkan dengan ritual Barong Compang atau altar perembahan.Prosesinya dilakukan di tanah yang berbentuk bulat, yang terletak di tengah kampung. Roh penghuni Compang juga diundang mengikuti upacara penti di rumah adat pada malam hari. Suku Manggarai mempercayai, roh kampung yang disebut Naga Galo selama ini berdiam di Compang. 
Bagi suku Manggarai, peranan Naga Galo sangat penting dan amat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Alasannya, Naga Galo-lah yang telah melindungi kampung dari berbagai bencana. Mulai dari kebakaran, angin topan, bahkan bisa menghindarkan timbulnya kerusuhan di kampung. Ritual Barong Compang diakhiri dengan langkah rombongan yang masuk ke rumah adat, untuk melakukan upacara Wisi Loce atau bentang tikar. Di sana, mereka menggelar tikar, agar semua roh yang diundang dapat menunggu sejenak sebelum puncak acara Penti. 
Keluarga dari rumah adat Gendang dan Tambor melanjutkan acara Libur Kilo. Prosesi yang satu itu bertujuan mensyukuri kesejahteraan keluarga dari masing-masing rumah adat. Uniknya, upacara tadi dipercaya sebagai upaya membaharui kehidupan bagi seluruh anggota keluarga. Sebab dalam upacara itu, warga yang bermasalah, dapat membangun kembali hubungan keluarga supaya lebih baik lagi. Puncak acara Penti ditandai dengan berkumpulnya kepala adat kampung, ketua sub klen, kepala adat yang membagi tanah, kepala keluarga, dan undangan dari kampung lain. Mereka berdiskusi membahas berbagai persoalan berikut jalan keluarnya. Ritual Penti bukan satu-satunya ritual yang kerap dilakukan masyarakat suku Manggarai, dan puncak dari rasa syukur tersebut dimeriakan  tari caci.
I.       Faktor Pendukung dan Penghambat Kesenian
Factor pendukung dalam upacara tarian caci adalah dimana tuan rumah harus menyiapkan segala sesuatu yang sudah ditentukan oleh tua adat dan pengurus panitia penerima tamu atau meka landing sebagai lawan dari petarungan permainan caci. Semua proerti seperti perlekapan-perlengkapan caci seperti lari, agang, ngiling.
Factor penghambat dalam permainan caci yang pertama adalah cuaca karena pertarungannya di ruangan terbuka yaitu natas (halaman kampong) pada saad suasan dan kondisi yang cerah. Adanya ketedidak sengajaan dalam menjaga etika dan tata kerama dalam petarungan caci, karena dalam permainan caci ini memiliki etika dan tata karma dalam hal memukul dan tutur kata padaa saad pertarungan berlangsung. Yang dimaksud dengan tutur kata yaitu paci (komentar) dari si penangkis. Dan yang dimaksud dengan etika mencambuk yaitu ada bagian tertentu yang tidak boleh asal puluk, karena bagian yang akan dicambuk hanya dibagian pinggang keatas dan yang tidak boleh adalah bagian anggota tubuh pinggang kebawah.  Apabila aturan-aturan tersebut dilanggar maka panitia atau tua adat sebagai tuan rumah penyelenggara berhak menutup upacara atu atraksi tersebut.
PENUTUP
Tari tradisional adalah salah satu dari sejumlah kekayaan budaya bangsa Indonesia yang multikultural. Setiap daerah memiliki jenis dan ragam tarian sendiri yang tentunya unik dan menarik bagi wisatawan. Tari caci salah satunya, yaitu atraksi tarian perang khas Manggarai, di Nusa Tenggara Timur yang menyiratkan simbol dan makna kepahlawanan serta keperkasaan. Tarian ini melibatkan dua orang laki-laki yang masing-masing bertindak sebagai penyerang dan sebagai pihak yang bertahan (penangkis serangan). Penari Caci yang saling unjuk kebolehan tersebut biasanya berasal dari dua kelompok, masing-masing terdiri dari delapan orang yang secara bergantian bertukar posisi sebagai kelompok penyerang dan bertahan. Setiap penari akan mendapat kesempatan berhadapan dengan anggota kelompok lawan, baik sebagai penyerang atau penangkis serangan.  
Para penari caci semuanya adalah laki-laki tetapi tidak semua lelaki dapat unjuk kebolehan dan keterampilan di arena caci. Terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi diantaranya adalah tubuh atletis adalah salah satu syarat yang harus dimiliki seorang penari caci. Syarat lainnya, penari harus pandai pula menyerang lawan dan atau bertahan dari serangan lawan, luwes dalam melakukan gerak tari, serta dapat menyanyikan lagu daerah. Hal-hal tersebut yang akan mereka lakukan selama pertunjukkan yang diringi musik gendang, gong, dan nyanyian. 
Seorang petarung caci berputar-putar dan berjingkrak seperti kuda jantan mengelilingi sekelompok musuhnya. Kulit hitam di bawah sengatan sinar mentari menutupi otot-otot kering yang mencengkeram sebuah pecut kayu berujung kulit kerbau yang suaranya dapat mengoyak suasana riuh rendah. Setelah saling memanaskan besutan adrenalin, seorang paki, penyerang yang memegang pecut, bersiap dengan kuda-kudanya mengayunkan sabetannya ke arah seorang ta’ang, yaitu penangkis yang diam bagai pasak. Ta’ang siap menangkis dengan sebongkah nggiling yaitu tameng kulit kerbau di tangan kiri dan tereng yaitu kayu penangkis di tangan kanan.
Pakaian penarinya yang khas sudah menjadi daya tarik sendiri. Penari perang tersebut mengenakan celana panjang berwarna putih dipadu dengan kain songke (sejenis songket khas Manggarai) yang dikenakan di sebatas pinggang hingga lutut. Tubuh bagian atas dibiarkan telanjang sebab tubuh tersebut adalah sasaran bagi serangan lawan. Pada bagian kepala, para penari mengenakan topeng (panggal) berbentuk seperti tanduk kerbau dan terbuat dari kulit kerbau yang keras serta dihiasi kain warna-warni. Panggal akan menutupi sebagian muka yang sebelumnya sudah dibalut dengan handuk atau destar sebagai pelindung. 
Bersiaplah mendengar deru suara tandak atau danding menggaung saat pecut menghantam lawan. Bagai suara senapan menggelegar, tameng beradu dengan ujung pecut terbuat dari kulit kerbau. Seutas lidi yang dipasang di ujung pecut atau mbete luput dari tameng ataupun tereng. Luka menggurat mengucurkan darah. Sorak penonton menggema, memahami makna tetesan darah sebagai persembahan untuk kesuburan dan lambang kejantanan.
Para penari biasanya juga mengenakan hiasan mirip ekor kuda terbuat dari bulu ekor kuda (lalong denki). Pada bagian sisi pinggang terpasang sapu tangan warna-warni yang digunakan untuk menari setelah atau sebelum dipukul lawan. Terdapat pula untaian pada pinggang belakang yang akan bergemirincing mengikuti gerak penari sekaligus penambah semarak musik gendang dan gong serta nyanyian (nenggo atau dere) pengiring tarian. 
Para penari tersebut nampak gagah mengenakan pakaian tersebut ditambah lagi dengan postur tubuh yang atletis. Penampilan mereka sebagai penari perang semakin meyakinkan dengan atribut senjata. Penari yang berperan sebagai penyerang (paki) dipersenjatai dengan cambuk yang terbuat dari kulit kerbau atau kulit sapi yang dikeringkan. Pegangan cambuk juga terbuat dari lilitan kulit kerbau. Pada bagian ujung cambuk, biasanya dipasang kulit kerbau tipis yang sudah dikeringingkan (lempa) atau dapat juga menggunakan lidi enau yang masih hijau (pori). 
Tak sama seperti beberapa bela diri lain, dalam Caci boleh menyerang bagian tubuh dari perut hingga kepala tetapi tidak bagian perut ke bawah. Acap kali mengenai mata pun sudah menjadi hal lumrah. Sebelum Caci dilangsungkan, sebuah pemanjatan nyanyian bernama kelong dialunkan sebagai panggilan kepada arwah para leluhur. Saat kelong dilantunkan, dan tandak atau danding mengikuti, maka Caci harus dilaksanakan. Tidak ada kelong tanpa Caci dan sebaliknya.
Sementara itu, penari yang berperan sebagai penangkis serangan (ta’ang) dibekali perisai (nggiling) yang juga terbuat dari kulit kerbau yang dikeringkan dan berbentuk bundar. Selain itu, ia juga memegang sejenis busur (agang atau tereng) yang terbuat dari bambu dan rotan yang berjalin dan dibentuk melengkung serupa busur. 
Sebelum tarian seru ini dimulai, pertunjukan tari caci akan diawali terlebih dahulu dengan pentas tari danding atau tandak manggarai. Tarian ini dibawakan laki-laki dan perempuan yang  memang khusus dipertunjukkan sebagai atraksi untuk meramaikan tari caci. Selain melakukan gerak tari, para penari danding juga akan melantunkan lagu dengan lirik untuk membangkitkan semangat para petarung Caci. Para penari Caci sebelum memasuki arena yang biasanya di lapangan berumput, akan terlebih dahulu melakukan  gerakan pemanasan dengan menggerakkan badannya serupa gerakan kuda. Saat menantang lawan, biasanya dilakukan sambil menyanyikan lagu-lagu adat. 
Pihak penyerang akan menyerang dan mencambuk tubuh lawan, terutama bagian lengan, punggung, dan dada. Tugas pihak lawan adalah menangkis atau menghindari serangan tersebut dengan perisai dan busur yang ia pegang di masing-masing tangan. Apabila kurang lincah mengelak maka dipastikan cambuk akan menyisakan bekas di tubuh hingga berdarah. Apabila pihak yang bertahan terkena cambuk pada matanya maka ia dinyatakan kalah (beke) dan kedua penari harus keluar arena dan digantikan oleh sepasang penari lainnya. 
Pedih terlihat samar di mata seorang ta’ang tapi tak boleh di antara ta’ang dan paki tercipta permusuhan, bahkan amarah sekalipun. Caci adalah sebuah permainan yang menjunjung tinggi sportifitas dan merayakan sebuah rasa kasih sayang dari kakak kepada adik. Sungguh tak lumrah, tapi legenda di balik permainan dan tarian ini akan menjadi sebuah pemahaman.
Bekas luka dari atraksi tari tersebut bagaimana pun juga dianggap sebagai kebanggaan karena merupakan lambang maskulinitas. Kabarnya Caci merupakan medium pembuktian ketangkasan seorang laki-laki Manggarai sekaligus sebagai ajang menempa diri dengan semangat sportivitas.
Dalam mempertunjukkan tarian ini, para penari saling menghormati satu sama lain dengan menjaga ucapan, emosi, sportifitas, dan rasa hormat. Selesai pertunjukkan, tidak ada dendam di antara para penari karena inilah salah satu seni kebanggaan masyarakat Manggarai di Flores bagian barat. Sebuah pertunjukkan yang unik dimana uji ketangkasan dipadukan dengan seni berupa gerak tari dan lagu daerah khas Manggarai.
Dari kajian nilai heroisme Tarian Caci diatas penulis bias mengatikatnya dengan teori instrinsik yaitu Nilai (yang ada dalam) seni itu terdapat pada bentuknya. Yang disebut bentuk ialah penyusunan medium indrawi atau permukaan karya seni. Jika demikian maka isinya (pandangan cita dan emosi yang menyertainya) yang terdapat didalam bentuk itu dapat dikatakan tidak relevan. Contohnya kostum yang dikenakan oleh penari caci tersebut, nilai atau keindahan sesungguhnya adalah kepuasan yang dihubungkan oleh warna-warna, garis-garis, bentuk-bentuk yang dapat disadari. Dasar teori ini berasal dari Plato.
Teori ekstrinsik (forma) susunan dari arti-arti di dalam (makna dalam) dan susunan medium indrawi (makna kulit) yang menampung proyeksi dari makna dalam, harus dikawinkan. Nilai-nilai itu (keindahan) mencakup semuanya, meliputi semua arti yang diserap dalam seni dan cita yang mendasrinya. Yang menyakut nilai teori ekstrinsik pada Tarian Caci ini adalah pada bagian perlengkapan seperti ngiling, larik,agang, pada tarian tersebut.
Teori serba intelektual, “tujuan seni ialah mengungkapkan kebenaran” dimana nilai kebenaran pada seni tarian caci ini tidak terlepas dari nilai rupanya yaitu keindahan perlengkapan atau alat yang digunakan pada tarian caci ini.
Teori Katarisis (catarisis) adalah tentang efek seni drama pada penontonya. Penonton yang medapat kepuasan dan kedamaian. Teori ini milik Aristoteles yang berbunyi “kepuasan menyaksikan seni drama dan mendengarkan music bagi penonton dan pendengarnya merupakan penyucian atau penyembuhan rohani”. Dalam atraksi tarian caci ini kita harus mendapatkan nilai dari tepri tersebut karena tarian caci ini harus diiringi dengan music-musik tradisional jadi kita sebagai penonton menikmati atraksi ini dgn alunan music juga sehingga mendapat kepuasan batin juga.
DOKUMENTASI
Dok. Pribadi (para pemain caci & pengiring tari pembukaan/danding)
Dok. Pribadi (caci dalam balutan busana)
 
                                              Dok. Pribadi (persiapan menangkis caci)         


Dok. Pribadi (caci=satu berlawan satu dalam petarungan)
 
Dok. Pribadi (paci dan nenggo=komentar dan bernyanyi setelah bertarung)
            
Dok.pribadi (para pemukul ngong dan gendang sebagai pengiring caci)

DAFTAR PUSTAKA
Edgar H Schein, Organizational Culture and Leadership, Fourth Edition, (San Francisco: Jossey-Bass), hlm. 3.
Pandangan Ki Hajar Dewantara tentang hubungan kebudayaan dan peradaban tampak dalam kritik terhadap efek pendidikan Barat di Indonesia yang terlalu intelektualistik, JB Soedarmanta, Jejak-Jejak Pahlawan: Perekat Kesatuan Bangsa Indonesia, (Jakarta: Grasindo, 2006), hlm 8. Bdk juga, Achdiat K Mihardja (Pengumpul), Polemik Kebudayaan: Pergulatan Pemikiran Terbesar dalam Sejarah Kebangsaan Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka), hlm. 44.
Conny Semiawan, Th I Setiawan, dan Yufiarti, Panorama Filsafat Ilmu: Landasan Perkembangan Ilmu Sepanjang Zaman, (Jakarta: Teraju Mizan, 2005), hlm. xi.
Dharsono, Estetika, (Bandung: Rekayasa Sains, 2007), hal 13-14
T. Ensiklopedi Wikipedia, “Tarian Caci Manggarai” (online), http://id.wikipedia. org/wiki/caci_manggarai. Diakses 29 May 2015.
Adi M. Nggoro, Budaya Manggarai Selayang Pandang (Ende: Nusa Indah, 2006), hlm. 127-129.

Rabu, 30 September 2015

Aku dan Impianku

Hasrat terpendam tidak membautku untuk berhenti melangkah, segala lika-liku hidup kuselami dan kunikmati, apapun itu tak mengurangi rasa rinduku pada mimpi dan masa depan ku.
Aku mengenal diriku dan senyumku pelengkap diriku menyakinkan aku kepada dunia bahwa aku bisa dan sangat bisa karena Tuhan Yesus dan Bunda Maria selalu menopangku.
"month the holy rosary" 011015