CACI
DALAM PRESPEKTIF ANTROPOLOGI
A.
PENDAHULUAN
Budaya
merupakan salah satu terminologi yang banyak mengusik dan menarik perhatian
pada pakar antropologi dan bahkan filsafat budaya dewasa ini. Mengapa? Seperti
dilansir Edgar H Shein, budaya merupakan fenomena dinamis dan latar belakang
dari sebuah struktur yang mempengaruhi seluruh dimensi komunitas dan organisasi
kehidupan manusia dalam berbagai bentuk.
Menurut
antropologi budaya yang dimaksud dengan kebudayaan adalah kebudayaan itu tidak
hanya berupa benda-benda hasil kesenian dan bermacam-macam bentuk kesenian
saja. Tetapi juga sikap, tingkah laku manusia, cara berfikir, pandangan hidup,
penilaian tentang baik buruk, semua itu termasuk pengertian kebudayaan. Secara
singkat dan sederhana antropologi budaya memberi arti istilah kebudayaan sebagai cara orang bersikap dan bertingkah
laku yang di pelajari yang sudah menjadi adat kebiasaan masyarakat beserta
hasil – hasilnya.
Budaya
merupakan sesuatu yang kompleks dan hal ini berpengaruh terhadap keberagaman
pemahaman budaya itu sendiri. Edward
Burnett Taylor, misalnya, memahami budaya atau peradaban sebagai suatu
keseluruhan yang kompleks dari pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum,
adat-istiadat, serta kemampuan-kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh
manusia sebagai anggota masyarakat. Taylor
tidak membedakan budaya dan peradaban. Hal yang sama dipahami Ki Hajar
Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Dewantara menyatakan bahwa
budaya adalah buah budi manusia yang merupakan hasil perjuangan manusia
terhadap pengaruh yang kuat yaitu alam dan zaman (kodrat dan masyarakat). Filsuf terkemuka, Ernest Cassirer, menegaskan bahwa
hanya manusia yang berbudaya karena hanya manusia yang memiliki akal budi.
Sebab budaya adalah karya kreativitas akal budi. Pandangan tentang budaya ini
memperlihatkan bahwa budaya bukan sesuatu yang statis dan stagnan, melainkan
dinamis, yang menimbulkan ketegangan kreatif antara daya preservatif di suatu
sisi dan daya progresif di sisi lain.
Kebudayaan yang terdiri dari gagasan, kepercayaan, nilai,
harapan dan ilmu kemudian dituangkan dalam ekspresi simbolik. Keseluruhan pola
pikir dan pola tingkah laku yang tersedimentasi kuat dalam kelompok sosial
tertentu itu turut menentukan cara hidup mereka. Tarian adalah salah satu
ekspresi dari totalitas pola pikir dan tingkah laku manusia dari suatu budaya.
Tari yang mengutamakan gerak dalam pementasannya memiliki
pengklasifikasian gerak berupa gerak tubuh bagian atas (leher, kepala, dan
mata), gerak tubuh anggota badan bagian tengah (pundak, lengan dan
badan/perut), dan gerak tubuh anggota badan bagian bawah (pinggul, kaki dan
jari). Tari dalam suatu upacara berfungsi sebagai alat komunikasi manusia
dengan sesuatu yang dikultuskan (dewa/dewi, roh nenek moyang). Selain itu, tari
juga berisikan cerita sejarah, legenda, mitos ataupun kehidupan yang nyata yang
sedang berjalan.
Dalam lingkaran budaya orang
Manggarai Nusa Tenggara Timur terdapat salah satu contoh tarian yang
menggambarkan karakter orang Manggarai, bernama “Tarian Caci”. Manggarai adalah bagian dari etnis Manggarai. Masyarakat
tradisional Manggarai terdiri dari 37 kedaluan, yakni: Ruteng, Rahong, Ndoso,
Kolang, Lelak, Wotong, Todo, Pongkor, Pocoleok, Sita, Torokgolo, Ronggakoe,
Kepo, Manus, Rimu, Welak, Pacar, Reho, Bari, Pasat, Nggalak, Ruis, Reo, Cibal,
Lambaleda, Congkar, Biting, Pota, Rembong, Rajong, Ngoo, Mburak, Kempo, Boleng,
Matawae, Lo’o dan Bajo. Dari setiap kedaluan bersemi mitos atau kisah kuno
mengenai asal usul leluhurnya dengan banyak kesamaan, yaitu bagaimana nenek
moyangnya datang dari laut atau seberang, atau bagaimana nenek moyangnya turun
dari gunung, menyebar dan mengembangkan hidup dan kebudayaannya.
B.
Bentuk
Aktivitas Budaya/ Adat Istiadat Yang Ada Dalam Masyarakat
Di Manggarai juga tumbuh dan
berkembang berbagai jenis kesenian khas daerah ini seperti seni sastra, musik,
tari, lukis, disain dan kriya. Dari berbagai jenis kesenian itu, ada dua jenis
yang sudah mencapai tingkat sebuah peradaban dan sudah dikenal luas, yakni seni
pertunjukan caci dan seni rupa (kriya), songke. Caci sudah merupakan puncak
kebudayaan Manggarai yang unik dan sarat makna: seni gerak (lomes), nilai etika
(sopan santun), nilai estektika, muatan nilai persatuan, ekspresi suka cita,
nilai sportifitas, serta penanaman percaya diri.
Tarian caci merupakan ekspresi budaya
tradisional Manggarai. Ekspresi budaya tradisional tersebut mengusung tema “ca
nai latang Manggarai” (satu hati untuk Manggarai). Di Manggarai, Flores - NTT,
caci itu sendiri adalah tarian kesatriaan pria-pria Manggarai. Watak kesatriaan
itu terlihat pada ketangkasan menggunakan peralatan dan pernak-pernik caci.
Peralatan dan pernak-pernik tersebut, dalam bahasa Manggarai, adalah panggal,
lalong ndeki, nggorong, nggiling, agang, larik, sapu dan songke. Caci secara
etimologis berasal dari dua suku kata yakni ca dan ci. Ca berarti satu dan ci
berarti lawan. Jadi, caci berarti tarian seorang melawan seorang yang lain.
Prinsipnya adalah sportif dan kreatif dalam aksi.
Caci atau tari
Caci adalah tari perang sekaligus permainan rakyat antara sepasang penari
laki-laki yang bertarung dengan cambuk dan perisai di
Flores, Nusa
Tenggara Timur, Indonesia.
Penari yang bersenjatakan cambuk (pecut) bertindak sebagai penyerang dan
seorang lainnya bertahan dengan menggunakan perisai (tameng).
Seorang
laki-laki yang berperan sebagai pemukul (disebut paki) berusaha memecut
lawan dengan pecut yang dibuat dari kulit kerbau/sapi yang dikeringkan. Pegangan pecut juga dibuat
dari lilitan kulit kerbau. Di ujung pecut dipasang kulit kerbau tipis dan sudah
kering dan keras yang disebut lempa atau lidi enau yang masih hijau (disebut pori).
Laki-laki yang berperan sebagai penangkis (disebut ta’ang), menangkis
lecutan pecut lawan dengan perisai yang disebut nggiling dan busur dari
bambu berjalin rotan
yang disebut agang atau tereng. Perisai berbentuk bundar, berlapis kulit kerbau yang sudah
dikeringkan. Perisai dipegang dengan sebelah tangan, sementara sebelah tangan lainnya memegang
busur penangkis.
C. Para
Pelaku Kesenian
Caci
dimainkan dua orang laki-laki, satu lawan satu, namun memukul dilakukan secara
bergantian. Para pemain dibagi menjadi dua kelompok yang secara bergantian
bertukar posisi sebagai kelompok penyerang dan kelompok bertahan. Caci selalu
dimainkan oleh kelompok tuan rumah (ata one) dan kelompok pendatang dari
desa
lain (ata pe’ang atau disebut meka landang yang berarti tamu
penantang). Tarian Danding atau tandak Manggarai ditarikan sebagai pembuka
pertunjukan caci. Penari caci tidak hanya menari namun juga melecutkan cambuk
ke lawan sembari berpantun dan bernyanyi. Lokasi pertandingan caci biasanya di
halaman rumah adat.
Bila
pukulan lawan dapat ditangkis, maka pecutan tidak akan mengenai badan. Kalau
pecutan tidak dapat ditangkis, pemain akan menderita luka. Jika mata terkena cambukan, maka pemain itu langsung
dinyatakan kalah (beke), dan kedua pemain segera diganti.
Pertarungan
berlangsung dengan diiringi bunyi pukulan gendang
dan gong,
serta nyanyian (nenggo atau dere) para pendukung. Ketika wakil
kelompok bertanding, anggota kelompok lainnya memberi dukungan sambil
menari-nari. Tempurung kelapa dipakai sebagai tempat minum tuak yang dipercaya dapat menggandakan kekuatan
para pemain dan penonton. Seperti layaknya pertandingan bela diri, sebagian
penonton ada mendukung penyerang, sementara sebagian lagi mendukung pemain
bertahan. Anggota kelompok atau penonton bersorak-sorak memberi dukungan agar
cambuk dilecutkan lebih kuat lagi. Tarian Caci merupakan
suatu permainan adu ketangkasan antara dua orang laki-laki dalam mencambuk dan
menangkis cambukan lawan secara bergantian. Tarian Caci terlihat begitu heroik
dan indah karena merupakan kombinasi antara Lomes (keindahan gerak tubuh dan
busana yang dipakai), Bokak (keindahan seni vokal saat bernyanyi) , dan Lime
(ketangkasan dalam mencambuk atau menangkis cambukan lawan).Pemain Caci juga
dibekali kemampuan olah vokal untuk bernyani , dimana setelah menangkis
cambukan lawan seorang pemain Caci secara spontan bernyanyi dan menyampaikan
Paci.
D.
Tokoh
Yang Berpengaruh
Dalam permain
caci ini tokoh yang perpengaruh demi kesuksesan acara syukuran adalah tua-tua
adat yang berperan sebagai Raja yang menentukan keberlangsungan upacara
syukuran, dan pendukung adah warga dimana tua adat dan warga harus bermusywarah
sebelum menentukan tanggal upacara syukuran tersebut. Pengurus desa dan
pemerithah juga berperan atas printah dari tua-tua adat, karena segala sesuatu
yang berurusan dengan upacara ada adat adalah tua-tua adat yang menentukan.
Peran dari tua-tua adat tidak terlepas dari rasa kehormatannya kepada leluhur.
Karen roh leluhur bagi masyarakat Manggarai merupakan dewa penyelamat, maka
masyarakat manggarai wajib menyembah roh-roh leluhur.
E. Urutan
Penyajian Pertunjukan
Caci
dibuka dengan Tari Danding atau dikenal juga dengan nama Tandak Manggarai. Para
lelaki, di luar paki dan ta’ang, berkeliling
membentuk lingkaran. Mereka biasanya berkostum beda dari para pelaku Caci;
berkemeja dan berbalut kain songke. Mereka akan menyenandungkan nyanyian adat
yang sakral, diiringi musik-musik yang berasal dari tabuhan gendang, gong, dan
tambur. Nyanyian ini tidak boleh dinyanyikan di sembarang tempat karena
bertujuan untuk memanggil arwah-awah nenek moyang untuk hadir bersama
menyaksikan Caci. Sementara Tandak Manggarai berlangsung, para paki dan ta’ang
melakukan pemanasan otot. Ini juga menarik, karena pemanasan yang mereka
lakukan adalah dengan menggerak-gerakkan tubuh serupa gerakan kuda.celana
putih, dengan songket yang melilit di pinggang serta ikat kepala songket.
Ketika
Tandak Manggarai usai dilakukan, para penari Caci akan mulai bergerak
berkeliling. Gerakan tari mereka dirancang serupa sebuah gerakan tidak
harmonis; gerak baku, gerak berkelahi. Tapi, yang sebenarnya, itu merupakan
gerakan cerminan kegembiraan, sesuai dengan makna Caci itu sendiri, yaitu
meluapkan kegembiraan terhadap sang pencipta dan keluarga. Setelah memilih
lawan, sepasang paki dan ta’ang akan saling
membungkuk memberi hormat, kemudian mulai saling mencambuk dan menangkis.
Ada
peraturan keras perihal mencambuk dalam Caci. Bagian tubuh dari pinggang ke
bawah tidak sah dijadikan sasaran cambuk. Dada, punggung, dan lengan adalah
sasaran yang seharusnya. Dan, ketika kendiki sudah mengenai mata, maka itu
disebut beke (kalah) dan kedua penari Caci harus diganti menangkis.
Di
sepanjang Caci, musik tidak berhenti bergema. Tetabuhan gendang, gong, dan
tambur masih mengiringi. Setiap kali pasangan selesai ‘berperang’, mereka biasa
mengeluarkan suara, yang disebut paci. Paci adalah bahasa kiasan yang
mengartikan kehebatan seseorang. Paci ini disampaikan dalam bentuk syair lagu. Selain
Paci, ada pula saat di mana para penari berinteraksi dengan penonton. Mereka
biasa akan bertanya apakah permainannya bagus atau tidak dengan, “Oe
ema o? Hena ko toe? Pass pasang daku ema?”Penonton atau pihak lawan boleh
menjawab, “Oeeee! Pass anak!” Artinya, “cantik” atau “tidak
kena”. Sesekali, para paki dan ta’ang juga
akan ikut bernyanyiuk nyanyian.
Caci
akan ditutup kembali dengan Danding. Seluruh pelaku Caci akan saling bersalaman
dan bernyanyi-nyanyi riang keluar arena tari. Kadangkala, Caci masih akan
dilanjutkan dengan tari-tari lainnya. Contohnya Tari Ndundu Ndake, tari yang
dilakukan oleh 7-10 perempua. Tari ini adalah tari khas masyarakat Manggarai
yang dilakukan sebagai tarian selamat datang atau tarian rasa syukur.
F.
PROPERTI YANG DIGUNAKAN
Pemain dilengkapi dengan
pecut (larik), perisai (nggiling), penangkis (koret), dan panggal
(penutup kepala). Untuk pakaian, para penari biasa bertelanjang
dada dengan bawahan celana panjang warna putih yang dilapisi sarung songket
khas Manggarai berwarna hitam bercorak motif songke khas Manggarai. Di bagian
pinggang, terpasang lalong denki (aksesori berbentuk ekor kuda
yang tegak dilengkapi untaian lonceng yang disebut gorong (lonceng-lonceng
kecil yang berbunyi ketika para penari bergerak). Di sekujur pinggang juga
terdapat sapu tangan warna-warni yang digunakan untuk menari setelah atau
sebelum dipukul lawan.
Topeng atau hiasan kepala (panggal) dibuat
dari kulit kerbau yang keras berlapis kain berwarna-warni. Hiasan kepala yang
berbentuk seperti tanduk
kerbau ini dipakai untuk melindungi wajah dari pecutan. Wajah ditutupi kain
destar sehingga mata masih bisa melihat arah gerakan dan pukulan lawan. Mereka
menggunakan kain destar untuk menutupi wajah, dengan tujuan melindunginya dari
cambukan. Sebagai penghias kepala, mereka mengenakan panggal yang terbuat dari
kulit kerbau berlapis kain warna-warni. Bentuk panggal adalah tanduk kerbau.
Ini melambangkan bahwa lelaki harus tangguh dan berani, serupa kerbau.
Simbolisme terhadap kerbau memang begitu kuat dalam Caci. Sebab, bagi
masyarakat Manggarai, kerbau adalah hewan terkuat dan terganas di dunia. Di
luar itu, bagi masyarakat Manggarai, panggal mengandung arti lima dasar
kepercayaan. Bagian tengahnya melambangkan rumah gendang, yaitu pusat persatuan
masyarakat tempat terselenggaranya
berbagai acara persembahan.
Caci penuh dengan
simbolisme terhadap kerbau yang dipercaya sebagai hewan terkuat dan terganas di
daerah Manggarai. Pecut melambangkan kekuatan ayah, kejantanan pria, penis, dan langit. Perisai melambangkan ibu, kewanitaan, rahim, serta dunia. Ketika cambuk dilecutkan dan mengenai perisai,
maka terjadi persatuan antara cambuk dan perisai.
Simbol maskulinitas dan
sportivitas
Seorang paki dan ta’ang yang
dipilih tidak hanya ahli tarung, tetapi juga bisa menari (lomes) dan
bernyanyi (dere). Hal ini agar Caci menjadi lebih menarik untuk
ditonton, terutama perempuan-perempuan pujaan. Selazimnya perang, Caci biasanya
akan meninggalkan luka-luka cambuk pada tubuh penari. Namun, inilah esensi
Caci. Ia tidak hanya sekadar tarian. Caci sekaligus merupakan simbol
maskulinitas lelaki Manggarai. Luka-luka cambuk yang didapat dari Caci dianggap
sebagai pembuktian kekuatan dan kejantanan laki-laki di daerah tersebut. Caci
juga menjadi pembelajaran bagi para lelaki Manggarai. Tidak hanya untuk menajamkan
kemahiran berperang, tetapi juga mengajarkan bagaimana mengendalikan emosi.
“Caci ini baku pukul. Tapi, apakah dia kena atau tidak, luka atau tidak, tidak
ada rasa dendam
G. Posisi Kesenian Dalam Masyarakat Manggarai
Bagi orang Kabupaten
Manggarai, caci merupakan pesta besar. Desa penyelenggara memotong
beberapa ekor kerbau untuk makanan para peserta dan penonton. Tari Caci
biasanya hanya dipentaskan pada acara-acara khusus, yaitu hari-hari besar
seperti HUT Kemerdekaan RI atau acara-acara adat diantaranya syukuran musim
panen (hang woja), ritual tahun baru (penti), upacara pembukaan
lahan baru, upacara menyambut tamu, dan sebagainya. Saat diadakan pertunjukkan
caci, biasanya pesta besar pun dilangsungkan dengan memotong beberapa ekor
kerbau kemudian disajikan sebagai makanan bagi para peserta dan penonton.
Biasanya, dua kelompok tari caci merupakan kelompok laki-laki dari dua desa
atau kampung.
Caci dapat juga Anda
saksikan setiap bulan-bulan panen antara Juli dan Oktober di desa-desa sekitar
Manggarai, Flores bagian barat. Salah satu desa dengan Caci yang mengesankan
ialah Ruteng. Langitnya yang biru bersih di siang hari saat menghadiri Caci digelar
adalah pemandangan dan pengalaman yang tak berbanding.
H. Peranan Sistem Keyakinan Masyarakat terhadap
keberadaan Kesenian
Tari Caci Adalah ritual Penti Manggarai. Upacara
adat merayakan syukuran atas hasil panen yang satu ini dirayakan bersama-sama
oleh seluruh warga desa. Bahkan ajang prosesi serupa juga dijadikan momentum
reuni keluarga yang berasal dari suku Manggarai.
Ritus
penti dimulai dengan acara berjalan kaki dari rumah adat menuju pusat kebun
atau Lingko, yang ditandai dengan sebuah kayu Teno. Di
sini, akan dilakukan upacaraBarong Lodok, yaitu mengundang roh penjaga
kebun di pusat Lingko, supaya mau hadir mengikuti perayaan Penti. Lantas kepala
adat mengawali rangkaian ritual dengan melakukan Cepa atau
makan sirih, pinang, dan kapur. Tahapan selanjutnya adalah melakukan Pau Tuak
alias menyiram minuman tuak yang disimpan dalam bambu ke tanah.
Urutan
prosesi tiba pada acara menyembelih seekor babi untuk dipersembahkan kepada roh
para leluhur. Tujuannya, supaya mereka memberkahi tanah, memberikan penghasilan,
dan menjauhkan dari malapetaka. Para peserta pun mulai melantunkan lagu pujian
yang diulangi sebanyak lima kali. Lagu itu disebut Sanda Lima. Usai itu,
rombongan kembali ke rumah adat sambil menyanyikan lagu yang syairnya
menceritakan kegembiraan dan penghormatan terhadap padi yang telah memberikan
kehidupan. Ritual Barong Lodok yang pertama ini dilakukan
keluarga besar yang berasal dari rumah adat Gendang. Upacara serupa
juga dilakukan keluarga besar dari rumah adat Tambor. Keduanya
dipercaya sebagai cikal bakal suku Manggarai.
Sebenarnya,
ritual Barong Lodok juga disimbolkan untuk membagi tanah
ulayat kepada seluruh anggota keluarga. Tanah yang bakal dibagikan itu
mempunyai beragam perbedaan luas, tergantung status sosial. Pembagiannya disimbolkan
dengan Moso, yakni sektor dalam Lingko yang diukur dengan jari
tangan. Tanah tersebut dibagi berdasarkan garis yang mirip dengan jaring
laba-laba.Tua Teno adalah satu-satunya orang yang memiliki otoritas
membagi tanah tersebut.
Sehabis
Barong Lodok, prosesi berlanjut ke ritual Barong Wae. Di sini, warga kembali
akan mengundang roh leluhur penunggu sumber mata air. Menurut kepercayaan,
selama ini roh leluhur itu telah menjaga sumber mata air, sehingga airnya tak
pernah surut. Ritual ini juga menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan, yang telah
menciptakan mata air bagi kehidupan seluruh warga Desa. Korban yang
dipersembahkan adalah seerkor ayam dan sebutir telur.
Rangkaian
upacara dilanjutkan dengan ritual Barong Compang atau altar perembahan.Prosesinya
dilakukan di tanah yang berbentuk bulat, yang terletak di tengah kampung. Roh
penghuni Compang juga diundang mengikuti upacara penti di rumah adat pada malam
hari. Suku Manggarai mempercayai, roh kampung yang disebut Naga Galo selama ini
berdiam di Compang.
Bagi
suku Manggarai, peranan Naga Galo sangat penting dan amat nyata dalam kehidupan
sehari-hari. Alasannya, Naga Galo-lah yang telah melindungi kampung dari
berbagai bencana. Mulai dari kebakaran, angin topan, bahkan bisa menghindarkan
timbulnya kerusuhan di kampung. Ritual Barong Compang diakhiri dengan
langkah rombongan yang masuk ke rumah adat, untuk melakukan upacara Wisi Loce
atau bentang tikar. Di sana, mereka menggelar tikar, agar semua roh yang
diundang dapat menunggu sejenak sebelum puncak acara Penti.
Keluarga
dari rumah adat Gendang dan Tambor melanjutkan acara Libur Kilo. Prosesi yang
satu itu bertujuan mensyukuri kesejahteraan keluarga dari masing-masing rumah
adat. Uniknya, upacara tadi dipercaya sebagai upaya membaharui kehidupan bagi seluruh
anggota keluarga. Sebab dalam upacara itu, warga yang bermasalah, dapat
membangun kembali hubungan keluarga supaya lebih baik lagi. Puncak acara
Penti ditandai dengan berkumpulnya kepala adat kampung, ketua sub klen, kepala
adat yang membagi tanah, kepala keluarga, dan undangan dari kampung lain.
Mereka berdiskusi membahas berbagai persoalan berikut jalan
keluarnya. Ritual Penti bukan satu-satunya ritual yang kerap dilakukan
masyarakat suku Manggarai, dan puncak dari rasa syukur tersebut dimeriakan tari caci.
I. Faktor Pendukung dan Penghambat Kesenian
Factor pendukung dalam
upacara tarian caci adalah dimana tuan rumah harus menyiapkan segala sesuatu yang
sudah ditentukan oleh tua adat dan pengurus panitia penerima tamu atau meka
landing sebagai lawan dari petarungan permainan caci. Semua proerti seperti
perlekapan-perlengkapan caci seperti lari, agang, ngiling.
Factor penghambat dalam
permainan caci yang pertama adalah cuaca karena pertarungannya di ruangan
terbuka yaitu natas (halaman kampong) pada saad suasan dan kondisi yang cerah. Adanya
ketedidak sengajaan dalam menjaga etika dan tata kerama dalam petarungan caci,
karena dalam permainan caci ini memiliki etika dan tata karma dalam hal memukul
dan tutur kata padaa saad pertarungan berlangsung. Yang dimaksud dengan tutur
kata yaitu paci (komentar) dari si penangkis. Dan yang dimaksud dengan etika
mencambuk yaitu ada bagian tertentu yang tidak boleh asal puluk, karena bagian
yang akan dicambuk hanya dibagian pinggang keatas dan yang tidak boleh adalah
bagian anggota tubuh pinggang kebawah. Apabila
aturan-aturan tersebut dilanggar maka panitia atau tua adat sebagai tuan rumah
penyelenggara berhak menutup upacara atu atraksi tersebut.
PENUTUP
Tari tradisional adalah
salah satu dari sejumlah kekayaan budaya bangsa Indonesia yang multikultural.
Setiap daerah memiliki jenis dan ragam tarian sendiri yang tentunya unik dan
menarik bagi wisatawan. Tari caci salah satunya, yaitu atraksi tarian perang khas
Manggarai, di Nusa Tenggara Timur yang menyiratkan simbol dan makna
kepahlawanan serta keperkasaan. Tarian ini melibatkan dua orang laki-laki yang
masing-masing bertindak sebagai penyerang dan sebagai pihak yang bertahan
(penangkis serangan). Penari Caci yang saling unjuk kebolehan tersebut biasanya
berasal dari dua kelompok, masing-masing terdiri dari delapan orang yang secara
bergantian bertukar posisi sebagai kelompok penyerang dan bertahan. Setiap
penari akan mendapat kesempatan berhadapan dengan anggota kelompok lawan, baik
sebagai penyerang atau penangkis serangan.
Para penari caci semuanya
adalah laki-laki tetapi tidak semua lelaki dapat unjuk kebolehan dan
keterampilan di arena caci. Terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi
diantaranya adalah tubuh atletis adalah salah satu syarat yang harus dimiliki
seorang penari caci. Syarat lainnya, penari harus pandai pula menyerang lawan dan
atau bertahan dari serangan lawan, luwes dalam melakukan gerak tari, serta
dapat menyanyikan lagu daerah. Hal-hal tersebut yang akan mereka lakukan selama
pertunjukkan yang diringi musik gendang, gong, dan nyanyian.
Seorang
petarung caci berputar-putar dan berjingkrak seperti kuda jantan mengelilingi
sekelompok musuhnya. Kulit hitam di bawah sengatan sinar mentari menutupi
otot-otot kering yang mencengkeram sebuah pecut kayu berujung kulit kerbau yang
suaranya dapat mengoyak suasana riuh rendah. Setelah saling memanaskan besutan
adrenalin, seorang paki, penyerang yang memegang pecut, bersiap dengan
kuda-kudanya mengayunkan sabetannya ke arah seorang ta’ang, yaitu penangkis
yang diam bagai pasak. Ta’ang siap menangkis dengan sebongkah nggiling yaitu
tameng kulit kerbau di tangan kiri dan tereng yaitu kayu penangkis di tangan
kanan.
Pakaian penarinya yang khas
sudah menjadi daya tarik sendiri. Penari perang tersebut mengenakan celana
panjang berwarna putih dipadu dengan kain songke (sejenis songket khas
Manggarai) yang dikenakan di sebatas pinggang hingga lutut. Tubuh bagian atas
dibiarkan telanjang sebab tubuh tersebut adalah sasaran bagi serangan lawan.
Pada bagian kepala, para penari mengenakan topeng (panggal) berbentuk
seperti tanduk kerbau dan terbuat dari kulit kerbau yang keras serta dihiasi
kain warna-warni. Panggal akan menutupi sebagian muka yang sebelumnya sudah
dibalut dengan handuk atau destar sebagai pelindung.
Bersiaplah
mendengar deru suara tandak atau danding menggaung saat pecut menghantam lawan.
Bagai suara senapan menggelegar, tameng beradu dengan ujung pecut terbuat dari
kulit kerbau. Seutas lidi yang dipasang di ujung pecut atau mbete luput dari
tameng ataupun tereng. Luka menggurat mengucurkan darah. Sorak penonton
menggema, memahami makna tetesan darah sebagai persembahan untuk kesuburan dan
lambang kejantanan.
Para penari biasanya juga
mengenakan hiasan mirip ekor kuda terbuat dari bulu ekor kuda (lalong denki).
Pada bagian sisi pinggang terpasang sapu tangan warna-warni yang digunakan
untuk menari setelah atau sebelum dipukul lawan. Terdapat pula untaian pada
pinggang belakang yang akan bergemirincing mengikuti gerak penari sekaligus
penambah semarak musik gendang dan gong serta nyanyian (nenggo atau dere)
pengiring tarian.
Para penari tersebut nampak
gagah mengenakan pakaian tersebut ditambah lagi dengan postur tubuh yang
atletis. Penampilan mereka sebagai penari perang semakin meyakinkan dengan
atribut senjata. Penari yang berperan sebagai penyerang (paki) dipersenjatai
dengan cambuk yang terbuat dari kulit kerbau atau kulit sapi yang dikeringkan.
Pegangan cambuk juga terbuat dari lilitan kulit kerbau. Pada bagian ujung
cambuk, biasanya dipasang kulit kerbau tipis yang sudah dikeringingkan (lempa)
atau dapat juga menggunakan lidi enau yang masih hijau (pori).
Tak
sama seperti beberapa bela diri lain, dalam Caci boleh menyerang bagian tubuh
dari perut hingga kepala tetapi tidak bagian perut ke bawah. Acap kali mengenai
mata pun sudah menjadi hal lumrah. Sebelum Caci dilangsungkan, sebuah
pemanjatan nyanyian bernama kelong dialunkan sebagai panggilan kepada arwah
para leluhur. Saat kelong dilantunkan, dan tandak atau danding mengikuti, maka
Caci harus dilaksanakan. Tidak ada kelong tanpa Caci dan sebaliknya.
Sementara itu, penari yang
berperan sebagai penangkis serangan (ta’ang) dibekali perisai (nggiling)
yang juga terbuat dari kulit kerbau yang dikeringkan dan berbentuk bundar.
Selain itu, ia juga memegang sejenis busur (agang atau tereng)
yang terbuat dari bambu dan rotan yang berjalin dan dibentuk melengkung serupa
busur.
Sebelum tarian seru ini
dimulai, pertunjukan tari caci akan diawali terlebih dahulu dengan pentas tari
danding atau tandak manggarai. Tarian ini dibawakan laki-laki dan perempuan
yang memang khusus dipertunjukkan sebagai atraksi untuk meramaikan tari
caci. Selain melakukan gerak tari, para penari danding juga akan melantunkan
lagu dengan lirik untuk membangkitkan semangat para petarung Caci. Para penari
Caci sebelum memasuki arena yang biasanya di lapangan berumput, akan terlebih
dahulu melakukan gerakan pemanasan dengan menggerakkan badannya serupa
gerakan kuda. Saat menantang lawan, biasanya dilakukan sambil menyanyikan
lagu-lagu adat.
Pihak penyerang akan
menyerang dan mencambuk tubuh lawan, terutama bagian lengan, punggung, dan
dada. Tugas pihak lawan adalah menangkis atau menghindari serangan tersebut
dengan perisai dan busur yang ia pegang di masing-masing tangan. Apabila kurang
lincah mengelak maka dipastikan cambuk akan menyisakan bekas di tubuh hingga
berdarah. Apabila pihak yang bertahan terkena cambuk pada matanya maka ia
dinyatakan kalah (beke) dan kedua penari harus keluar arena dan
digantikan oleh sepasang penari lainnya.
Pedih
terlihat samar di mata seorang ta’ang tapi tak boleh di antara ta’ang dan paki
tercipta permusuhan, bahkan amarah sekalipun. Caci adalah sebuah permainan yang
menjunjung tinggi sportifitas dan merayakan sebuah rasa kasih sayang dari kakak
kepada adik. Sungguh tak lumrah, tapi legenda di balik permainan dan tarian ini
akan menjadi sebuah pemahaman.
Bekas luka dari atraksi tari tersebut
bagaimana pun juga dianggap sebagai kebanggaan karena merupakan lambang
maskulinitas. Kabarnya Caci merupakan medium pembuktian ketangkasan seorang
laki-laki Manggarai sekaligus sebagai ajang menempa diri dengan semangat
sportivitas.
Dalam mempertunjukkan
tarian ini, para penari saling menghormati satu sama lain dengan menjaga
ucapan, emosi, sportifitas, dan rasa hormat. Selesai pertunjukkan, tidak ada
dendam di antara para penari karena inilah salah satu seni kebanggaan
masyarakat Manggarai di Flores
bagian barat. Sebuah pertunjukkan yang unik dimana uji ketangkasan dipadukan
dengan seni berupa gerak tari dan lagu daerah khas Manggarai.
Dari
kajian nilai heroisme Tarian Caci diatas penulis bias mengatikatnya dengan
teori instrinsik yaitu Nilai (yang ada dalam) seni itu terdapat pada bentuknya.
Yang disebut bentuk ialah penyusunan medium indrawi atau permukaan karya seni.
Jika demikian maka isinya (pandangan cita dan emosi yang menyertainya) yang
terdapat didalam bentuk itu dapat dikatakan tidak relevan. Contohnya kostum
yang dikenakan oleh penari caci tersebut, nilai atau keindahan sesungguhnya
adalah kepuasan yang dihubungkan oleh warna-warna, garis-garis, bentuk-bentuk
yang dapat disadari. Dasar teori ini berasal dari Plato.
Teori
ekstrinsik (forma) susunan dari arti-arti di dalam (makna dalam) dan susunan
medium indrawi (makna kulit) yang menampung proyeksi dari makna dalam, harus
dikawinkan. Nilai-nilai itu (keindahan) mencakup semuanya, meliputi semua arti
yang diserap dalam seni dan cita yang mendasrinya. Yang menyakut nilai teori
ekstrinsik pada Tarian Caci ini adalah pada bagian perlengkapan seperti
ngiling, larik,agang, pada tarian tersebut.
Teori
serba intelektual, “tujuan seni ialah mengungkapkan kebenaran” dimana nilai
kebenaran pada seni tarian caci ini tidak terlepas dari nilai rupanya yaitu
keindahan perlengkapan atau alat yang digunakan pada tarian caci ini.
Teori
Katarisis (catarisis) adalah tentang efek seni drama pada penontonya. Penonton
yang medapat kepuasan dan kedamaian. Teori ini milik Aristoteles yang berbunyi
“kepuasan menyaksikan seni drama dan mendengarkan music bagi penonton dan
pendengarnya merupakan penyucian atau penyembuhan rohani”. Dalam atraksi tarian
caci ini kita harus mendapatkan nilai dari tepri tersebut karena tarian caci
ini harus diiringi dengan music-musik tradisional jadi kita sebagai penonton
menikmati atraksi ini dgn alunan music juga sehingga mendapat kepuasan batin
juga.
DOKUMENTASI
Dok. Pribadi (para
pemain caci & pengiring tari pembukaan/danding)
Dok. Pribadi (caci dalam balutan
busana)
Dok. Pribadi (persiapan
menangkis caci)
Dok.
Pribadi (caci=satu berlawan satu dalam petarungan)
Dok. Pribadi (paci dan nenggo=komentar dan
bernyanyi setelah bertarung)
Dok.pribadi
(para pemukul ngong dan gendang sebagai pengiring caci)
DAFTAR
PUSTAKA
Edgar H
Schein, Organizational Culture and Leadership,
Fourth Edition, (San Francisco: Jossey-Bass), hlm. 3.
Pandangan
Ki Hajar Dewantara tentang hubungan kebudayaan dan peradaban tampak dalam
kritik terhadap efek pendidikan Barat di Indonesia yang terlalu
intelektualistik, JB Soedarmanta, Jejak-Jejak
Pahlawan: Perekat Kesatuan Bangsa Indonesia, (Jakarta: Grasindo, 2006), hlm
8. Bdk juga, Achdiat K Mihardja (Pengumpul), Polemik Kebudayaan: Pergulatan Pemikiran Terbesar dalam Sejarah
Kebangsaan Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka), hlm. 44.
Conny
Semiawan, Th I Setiawan, dan Yufiarti, Panorama
Filsafat Ilmu: Landasan Perkembangan Ilmu Sepanjang Zaman, (Jakarta: Teraju
Mizan, 2005), hlm. xi.
Dharsono, Estetika, (Bandung: Rekayasa Sains, 2007), hal 13-14
T.
Ensiklopedi Wikipedia, “Tarian Caci Manggarai” (online), http://id.wikipedia. org/wiki/caci_manggarai.
Diakses 29 May 2015.
Adi M.
Nggoro, Budaya Manggarai Selayang Pandang
(Ende: Nusa Indah, 2006), hlm. 127-129.